high quality jomblo why not
KISAH

High Quality Jomblo, Why Not?

Posted On September 13, 2017 at 1:43 pm by / No Comments

high quality jomblo why not
image: iwearbanana.com

High Quality Jomblo Why Not?_dipublikasikan dari majalah elfata edisi lama

Aku lahir di tengah keluarga sederhana. Keluargaku yang amat protektif, terutama bundaku membuatku tumbuh menjadi gadis pendiam dan tak pandai bersosialisasi dengan lingkunganku. Bahkan di sekolahanku tak mampu beradaptasi dengan baik dengan teman-temanku. Aku menilai diriku tidak gaul.

Aku berbeda dengan anak-anak lain yang pakaiannya bagus-bagus, pintar berdandan, lemah lembut dalam bertutur. Dibilang tomboy juga nggak, hanya saja aku tidak begitu memperhatikan penampilanku. Bahkan, ayahku sendiri bilang kalau aku ini kuper.

Meski dalam bergaul aku kaku, namun aku tidak ingin ketinggalan dalam pelajaran. Orang tuaku selalu menuntut dan memotivasi agar aku menjadi anak yang pandai, berprestasi, dan dapat membanggakan mereka. Aku sudah sering mewujudkan itu semua. Nilai-nilaiku di sekolahan tidak mengecewakan dan aku pikir aku telah melakukan yang terbaik untukku dan untuk mereka.

Semua peraturan yang ditetapkan oleh mereka aku coba untuk melaksanakannya dengan baik. Namun satu peraturan yang yang tidak aku setujui dari sekian peraturan yang ada.

“Nak, kamu tidak boleh pacaran, kalau bunda dan ayah mendapati kamu pacaran, lebih baik kamu tidak usah sekolah sekalian.”
Awalnya, aku tidak begitu masalah dengan peraturan itu dan aku sangat mendukung pernyataan mereka. Aku sangat enjoy dan biasa-biasa saja kalau memang peraturannya begitu.

Tapi tidak tahu kenapa, tiba-tiba muncul keinginan untuk tampil lebih dari teman-temanku yang lain, ingin rasanya aku memberontak dan berteriak, “Aku tidak setuju!” Mungkin karena aku sudah remaja dan rasanya aku ingin bilang hal ini kepada mereka.

Biar bagaimana pun, aku juga seorang remaja normal yang membutuhkan cinta, khususnya cinta dari lawan jenis. “Masa pacaran saja nggak boleh sih!”

Aku mulai tidak lagi bisa menerima ketentuan-ketentuan dari orang tuaku, ada penolakan keras dalam hatiku. Seakan aku tidak mengenal diriku lagi. Aku seperti anak pingitan yang ketika ada kesempatan untuk kabur maka aku akan lari sekencang-kencangnya.

Pengawasan dari orang tuaku sangat ketat kepadaku, tapi walau bagaimana pun mereka hanya manusia biasa. Tanpa sepengetahuan mereka aku jadian dengan ikhwan(laki-laki-red) yang masih satu sekolahan denganku.Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP kelas III.

Sebelumnya aku belum pernah mengenal pacaran dan saat itu mungkin pertama kali aku berkenalan dengan kata pacaran itu. Aku hanya ikut-ikutan dengan anak-anak lain yang mengatakan bahwa pacaran itu indah.

Setelah aku dan ikhwan itu jadian, aku jadi sering bertemu dengannya, saling menyapa dan melempar senyum kala bertemu. Kadang-kadang aku meliriknya dan mencari-cari dia ketika dia luput dari pandanganku.

Meski kami pacaran, namun aku tidak mau mencontoh gaya pacaran teman-temanku yang lain. Menurutku itu sudah berlebihan. Aku suka yang biasa-biasa saja, begitu persepsiku saat itu.

Tapi, tetap saja ada rasa rindu di hatiku bila tidak bertemu dengannya. Aku ingin dia selalu berada di sampingku, menyimak cerita-ceritaku, mendengar keluhan-keluhanku dan yang paling penting aku bisa bersamanya terus.

Tapi itu tak mungkin terwujud karena banyak kendala yang kutemui dalam perjalanan cintaku. Aku harus merahasiakan ini semua dari bunda dan ayah.

Aku harus sembunyi-sembunyi bahkan berbohong kepada mereka. Ada tugas kelompoklah, ke rumah temanlah, dan alasan lain agar aku dapat selalu bertemu dengannya. Tapi, aku tidak pernah pergi berdua dengannya, biasanya aku mengajak temankau yang lain. Namun tetap saja itu tidak bisa dibenarkan.

Meski waktu bertemu terbatas hanya di sekolah saja, namun hampir setiap waktu aku selalu teringat terus dengannya, wajahnya terus muncul di dalam pikiranku. Dia benar-benar menyita waktuku dari pelajaran, bahkan pada saat belajar aku suka senyum-senyum sendiri mengingatnya. Astaghfirullah!

Namun begitu aku juga tidak mau keseringan bertemu dengannya, entar ketahuan sama bunda dan ayah kalau aku sudah melanggar peraturan. Aku sering ngeri membayangkan hal itu. Sudah dapat kuterka, pasti kemarahan akan meledak dan satu hal yang paling kutakutkan jika rahasiaku ketahuan, mereka tidak akan menyekolahkanku lagi.

Konsentrasi belajarku jadi hilang, moodku hanya selalu pengin ketemu dia. Nilai-nilaiku di sekolah jadi jeblok, sikapku berubah drastis, begitu kata teman-temanku. Aku mendapat teguran keras dari orang tuaku. Mereka menuntutku untuk belajar lebih giat lagi.

Aku sadar, kalau aku sudah mengecewakan mereka. Aku ingin memperbaiki nilai-nilaiku yang anjlok. Aku pikir untuk sementara waktu aku harus memfokuskan diri pada pelajaran. Aku memintanya agar dia mau mengerti dengan keadaanku saat ini meski aku selalu merasa jenuh dengan kekangan dari orang tuaku. Tapi mau bagaimna lagi, waktu luangku sangat dibatasi oleh mereka.

Namun, Allah Maha Mendengar segalanya. Dia tidak membiarkanku terlalu jauh melangkah dan terseret arus ke lembah pacaran yang suram itu. Melalui temanku, sebut saja Dina, Allah memberikan petunjuk-Nya dan membukakan pintu hatiku.
Hari itu aku diajak Dina untuk mengikuti Tarbiyah(pengajian-red) yang setiap pekan biasa dia ikuti. Entah mengapa hatiku tergerak dan ada keinginan untuk mengikutinya.

Di sana aku merasa ada sesuatu yang beda. Ada keteduhan dan kedamaian, dan di sana juga aku mengetahui keindahan dan kesempurnaan Islam maski hanya segelintir saja. Aku juga baru tahu kalau pacaran itu tidak ada dalam Islam dan ganjaran yang paling pantas didapatkan dari Allah l bagi yang nekat melakukannya adalah adzab. Tanpa pikir panjang lagi, dengan segera aku akhiri hubungan terlarang dengannya. Alangkah berdosanya aku selama ini. Aku telah menemp[atkan cintaku pada tempat yang salah.

Mengapa pemahamanku tentang cinta begitu sempit dan mempersempit arti cinta itu sendiri? Aku telah menodai sucinya cinta sebab tak berusaha mengetahui apa sebenarnya cinta itu. Paling tidak yang aku tahu saat ini cinta yang abadi hanya untuk Allah l semata.

Aku baru menyadari, alangkah beruntungnya aku yang memiliki orang tua yang begitu memperhatikan perkembanganku, bahkan saat-saat remajaku yang penuh dengan godaan, mereka selalu menekankan kepadaku agar aku tidak terjerumus ke dalam lembah pacaran yang hanya akan mendapatkan kenikmatan semu, namun derita yang berkepanjangan.

“Maafkan aku bunda, ayah, karena aku selama ini tak mendengarkan nasehatmu. Aku benar-benar menyesali segala perbuatanku dan telah kutancapkan di dalam hatiku, ini tidak akan terulang lagi kedua kali!”
Di pipiku terbentuk anak-anak sungai, gambaran hatiku yang sedang merintih. Aku tak dapat lagi membendung air mataku, kubiarkan saja mengalir membasahi pipiku dengan harapan beban berat di pundakku akan hilang.

Aku harus berusaha mengubur dalam-dalam cerita yang kelam itu, dan mungkin ada banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kupetik agar tidak melakukan kesalahan yang sama dalam menata kehidupan yang lebih baik.

Aku ingi menjadi “Hig Quality Jomblo” dan tetap pede dengan jomblo tentu saja karena-Nya. Takkan ada lagi kata pacaran sekarang dan selamanya dalam kamus hidupku. Insya Allah._Oleh: Tuti Harmiami
Catatan Redaksi:
Setiap orang tua tentu selalu menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Dalam pergaulan, pendidikan dan semuanya diharapkan selaras dengan aturan main yang telah digariskannya. Namun, peraturan yang sering ditetapkan terkadang disalahpersepsikan sebagai kungkungan dan penjara yang mematikan kehendak dan keinginan diri. Padahal tidaklah demikian, peraturan yang mereka berikan ditujukan tidak lain hanyalah untuk kebaikan.

Bersyukurlah, jika kita memiliki orang tua yang peduli dengan hal ihwal kita. Terima peraturan-yang tidak bermaksiat kepada-Nya- dengan lapang dada.

Di lain sisi, cinta memanglah berjuta rasa. Itulah ungkapan yang sering terdengar. Indahnya bikin ‘pemainnya’ berasa terbuai. Setiap saat selalu pengin ketemu dengan sang arjuna dan berdampingan dengannya.

Namun, keindahan dan dan kesenangan cinta model ini selalu berbalut dengan noda. Bagimana tidak? Pacaran yang tegas-tegas terlarang dilakoni, sama saja membiarkan diri bergelut dengan maksiat.

Sadar tak sadar, pacaran sangat tidak pantas dilakukan. Mau tidak mau pacaran mesti diakhiri. Tentunya, semua hanya untuk mengharap ridha Rabb kita.

Meski tak dapat dipungkiri masa remaja adalah masa ‘bergejolak’, namun tak semestinya pacaran jadi pilihan. Karena bagaimana pun jua pacaran bukanlah pilihan pintar. Hidupkan masa muda dengan aktifitas sarat faedah dan bermuatan ibadah, bukan dengan hal-hal sia-sia berlumur dosa. Terlebih pacaran yang aslinya tak dianjurkan bahkan dilarang dalam Islam.

Hindari dan jauhi pacaran, tentu saja hanya karena Allah l bukan yang lain. Kenali cinta nanti ketika sudah sampai masanya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa meraih cinta dari Dzat pemberi cinta, menebar cinta di jalan-Nya. Yang tentunya, dengan jalan syariat yang telah Dia gariskan. Karena itulah sejatinya cinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Harga yang tertera belum termasuk ongkos kirim. Hubungi kami di: 0821 3487 5898 / 0813-3940-0062 (WhatsApp) Dismiss